Surabaya, Jatiminside.com – Inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) lahir dari tangan pelajar sekolah dasar di Surabaya.
Lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I yang tergabung dalam Tim Nebula One berhasil mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat bernama Sign Language Translator dan mengantarkan mereka meraih Juara 1 Kategori Young Innovators pada ajang Impact Fest 2026.
Inovasi tersebut berawal dari kepedulian para siswa terhadap masih banyaknya masyarakat yang belum memahami bahasa isyarat sehingga komunikasi dengan penyandang disabilitas sensorik, seperti tunarungu dan tunawicara, masih mengalami hambatan.
Tim Nebula One terdiri atas siswa kelas V dan VI, yakni Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi. Dengan pendampingan guru, mereka memanfaatkan platform Pictoblocks dan teknologi machine learning untuk mengembangkan aplikasi berbasis AI tersebut.
Salah satu anggota tim, Shauqi, mengatakan ide pengembangan aplikasi muncul setelah diskusi bersama guru pembimbing mengenai persoalan inklusivitas di lingkungan sekitar.
“Aplikasi ini memuat materi pembelajaran Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Kami ingin membantu masyarakat luas agar lebih mudah paham dan belajar bahasa isyarat,” jelas Shauqi dikutip pada Minggu (3/8/2026).
Proses pengembangan aplikasi yang menggunakan teknologi hand pose detection berlangsung sekitar tiga hingga lima bulan. Tahapan pengerjaan dimulai dari pencarian ide, riset mandiri, hingga pemrograman dasar.
Dalam prosesnya, para siswa sempat menghadapi kendala berupa kesalahan penerjemahan gerakan (translation error). Namun, mereka berhasil mengatasinya dengan melakukan debugging dan menyempurnakan kembali baris program hingga aplikasi dapat berjalan lebih optimal.
Saat ini, Sign Language Translator masih berada pada tahap prototipe. Tim Nebula One berencana menambahkan berbagai fitur lanjutan, seperti Sign to Text (Isyarat ke Teks), Text to Sign (Teks ke Isyarat), dan Voice to Sign (Suara ke Isyarat).
“Kami berharap, aplikasi ini kelak bisa diakses publik dan dipakai banyak orang untuk menghilangkan hambatan komunikasi dengan teman-teman disabilitas,” tambah para siswa.
Mereka juga mengajak pelajar lain di Surabaya untuk berani berinovasi dan memanfaatkan teknologi sebagai solusi bagi masyarakat.
“Jangan takut salah. Kalau punya ide, langsung keluarkan dan teruskan. Bermain ponsel boleh untuk cari ide, tapi harus berani direalisasikan agar menjadi hal yang berguna bagi masyarakat,” tutup mereka semangat.
Keberhasilan Tim Nebula One mendapat dukungan penuh dari Kepala SDN Tenggilis Mejoyo I, Siti Noor Iffa, bersama dua guru pendamping, Ika Khusniyawati dan Arizkylia Yoka Putri.
Siti Noor Iffa mengatakan sekolah selalu memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mendukung prestasi.
“Alhamdulillah, selama ini sudah terjalin kolaborasi yang baik antara sekolah dan wali murid untuk mendukung prestasi anak-anak,” imbuhnya.
Sementara itu, guru pendamping Ika Khusniyawati menjelaskan bahwa ide aplikasi lahir dari upaya menjawab isu inklusivitas yang kini menjadi perhatian dalam dunia pendidikan.
“Kami berdiskusi mengenai tren edukasi keberlanjutan dan inklusivitas. Dari sana, anak-anak diajarkan melakukan riset literatur sederhana hingga akhirnya memutuskan membuat penerjemah bahasa isyarat,” ungkap Ika.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam mendampingi siswa sekolah dasar mempelajari coding adalah menjaga fokus dan konsistensi belajar. Namun, rasa ingin tahu dan pola pikir kritis para siswa menjadi modal penting dalam menyelesaikan pengembangan aplikasi tersebut.
“Segalanya butuh proses dan tidak ada yang instan. Sebagai pendamping, kita harus ulet. Nilai akademik memang penting, tetapi bakat, minat, serta keberanian anak untuk berinovasi jauh lebih bernilai,” ujarnya. ***


Tinggalkan Balasan